Kajian : Surah Al Fatihah

Kajian : Surah Al Fatihah
Created by Canva.com


Asbabun Nuzul 

Surah Al Fatihah - Disebut Al Fatihah (pembuka) atau Ummul Kitab (Induk Al Kitab). Diriwayatkan oleh An Nasai, Ibn Hiban, Hakim dan Baihaqi dari Anas bin Malik, ia berkata : "Pada suatu hari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sedang dalam perjalanan. Beliau berhenti lalu turun dari tunggangannya. Kemudian ada seorang sahabat yang juga turun dari tunggangannya untuk mendampingi Beliau. Lalu Beliau bersabda, "Maukah kamu saya beritahukan sebuah surat yang paling utama di dalam Al Quran?" Lalu Beliau membaca Al Fatihah.

Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Siapa saja yang shalat tanpa membaca Ummul Quran (Surah Al Fatihah), maka shalatnya tidak sempurna."

Kajian Hadits mengenai Surah Al Fatihah

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Wahai Bani Adam! Aku telah menurunkan kepadamu tujuh ayat, tiga diantaranya untuk-Ku, tiga lainnya untuk kalian, dan satu lainnya milik kita bersama. Adapun tiga ayat milik-Ku ialah, Alhamdu lillahi rabbil 'alamin, Ar rahmanir rahim, Maliki yaumiddin. Satu ayat milik bersama ialah, Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Yakni kamu melakukan ibadah sedangkan Aku yang memberikan pertolongan. Adapun yang khusus untukmu ialah Ihdinas siratal mustaqim, Siratal lazina an'amta 'alaihim ghairil maghdubi'alaihim wa laddaliin.". (HR. Thabrani)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Surat Al Fatihah menyamai pahalanya dengan pahala membaca dua pertiga Al Quran." (HR. Abdullah bin Ahmad)

Rasulullah bertanya kepada Ubay yang baru menyelesaikan shalatnya, "Apa yang kamu baca dalam shalat?" Ubay menjawab, "Aku membacakan Ummul Quran." Beliau bersabda, "Demi yang jiwaku berada di genggaman-Nya, Allah tidak menurunkan surah yang setara dengan itu (Al Fatihah) baik dalam Taurat, Zabur, Injil maupun Al Furqan. Sesungguhnya ia merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang." (HR. Ahmad bin Hanbal)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Fatihah itu sebagai tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan sebagai Al Quran yang mulia yang diberikan kepadaku." (HR. Tirmidzi)

Kajian Mandiri Terjemahan terkait Surah Al Fatihah

Ayat 1 : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Poin : Penyematan kata Maha dalam ayat tersebut sebagai salah satu wujud rasa Kasih dan Sayang sepenuhnya dan tak terbatas hanya kepunyaan Allah. Tidak ada rasa Kasih dan Sayang yang jauh lebih agung dari kepunyaan Allah.

Kita bisa coba sedikit menguliknya, Kasih Sayang Allah kepada setiap makhluk-Nya dengan beragam bentuk dan beragam karakter. Kemudian diciptakan-Nya rasa, nafsu, fikiran dan jiwa pada setiap makhluk ciptaan-Nya. Belum lagi alam semesta yang begitu sempurna beredar sesuai dengan yang dikehendaki Allah. 

Rasa Kasih dan Sayang Allah sudah melekat pada setiap penciptaan-Nya. Jika ada yang mengeluhkan bahwa Allah tidak memberikan Kasih dan Sayang kepadanya berarti dia tidak menyadari bahwa sebelum dia lahir dia hanyalah organisme yang tidak dapat berbuat apa-apa. Masihkah kau mau membangkang kepada Allah?

Ayat 2 : Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
Poin : Segala pujian yang Agung diperuntukkan hanya kepada Allah. Mengapa kita memuji-Nya? Karena kekuasaan-Nya yang tak terbatas dan karena lemahnya diri kita membuat kita sudah sepatutnya senantiasa memuji Allah. Pujian kepada Allah juga sebagai wujud bahwa kita sebagai manusia harus tunduk, patuh dan merendah diri di hadapan-Nya. Tak sepantasnya makhluk, arogan dan sombong dengan pencipta-Nya. 

Mengapa Semesta Alam, karena semesta bagian dari penciptaan yang diciptakan Allah. Sampai saat ini belum ada satu pun ilmuwan yang berhasil mengukur seberapa luas jagat raya. Maka dari itu, semesta alam juga menjadi bagian bahwa kekuasaan Allah tak terbatas.

Ayat 3 : Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Poin : Allah telah menganugerahkan bentuk tubuh kepada manusia, hewan dan tumbuhan. Menciptakan setiap organ tubuh menjalankan fungsinya masing-masing, mulut untuk makan, hidung untuk mencium bau, dan semua fungsi panca indera berjalan dengan takdir Allah. 

Pernahkah terbayang, jika rambut di kepala kita, tidak ditumbuhkan Allah otomatis. Lalu sampai kapan rambut akan tetap tumbuh? Lalu bagaimana caranya agar tumbuh? Lalu kenapa ada rambut gondrong dan botak? Lalu kenapa rambut setiap orang berbeda warna dan bentuknya? Itu semua sebagai bentuk kemurahan Allah yang sudah seharusnya kita syukuri bukan kufuri. 

Bentuk rasa syukur sebenarnya ialah dengan bertanggung jawab terhadap karunia yang Allah titipkan dan menjaga/merawat ciptaan Allah dengan sebaik-baiknya. Kemudian untuk rasa Sayang Allah tentu tak terbatas dan tak terhingga seperti yang dijelaskan di Ayat 1.

Ayat 4 : Yang Menguasai Hari Pembalasan.
Poin : Allah menciptakan dunia dan akhirat, surga dan neraka. Semua tentu ada maksud dan tujuannya. Segala yang terjadi pada hidup kita juga bagian dari apa yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Allah. 

Jika kau di dunia merasa bahwa dunia sebagai pelarian untuk bersenang-senang, berbuat maksiat dan enggan untuk beribadah kepada Allah, maka bersiaplah di hari Pembalasan nanti dengan apa yang akan terjadi.

Jika kau di dunia merasa bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, lebih banyak bersabar, bersyukur, berbuat baik, beribadah yang terbaik hanya dan untuk Allah. Maka bersiaplah di hari Pembalasan untuk mendapatkan hasilnya.

Apa yang sudah terjadi dan sudah pernah kita lakukan pasti akan kembali lagi kepada diri kita sendiri. Seperti halnya kelak ketika kita sebelum dilahirkan dihidupkan Allah di dalam rahim seorang ibu lalu kemudian hidup sampai akhirnya nanti kelak kita juga kembali kepada Allah, Tuhan kita. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un

Ayat 5 : Hanya kepada-Mu kami menyembah dan Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Poin : Seperti yang sudah pernah difirmankan Allah, bahwa tujuan dari diciptakannya manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada Allah. Bentuk ibadah ialah menjalankan apa saja yang menjadi perintah Allah dengan rasa cinta. 

Sesuai yang disebutkan di poin-poin sebelumnya bahwa manusia dan mahkluk lainnya tidak memiliki kekuasaan apapun terhadap dirinya sendiri. Maka dari itu, pasti kita membutuhkan pertolongan dari Allah. Pertolongan agar selamat di dunia dan di akhirat, pertolongan agar diberi petunjuk, pertolongan agar senantiasa dimampukan, dsb.

Ayat 6 : Tunjukanlah kami jalan yang lurus.
Poin : Bisa dibilang dalam menjalani hidup, kita masuk ke dalam sebuah labirin. Ada banyak persimpangan, ada banyak rambu-rambu yang menggoda untuk menyesatkan, bahkan ada banyak jalan yang rusak, jalan yang menjebak, jalan yang berlubang. Kita tentu tidak selamanya akan berada pada jalan yang lurus, pasti kita akan merasakan lika-liku perjalanan, setidaknya melewati jalan menanjak, jalan menurun, dan jalan berbelok.

Tapi mampukah kita sampai kepada jalan yang lurus. Apa itu jalan yang lurus? Jalan yang jika kita mengikutinya akan kembali kepada Allah, jalan yang di ridhai Allah, jalan yang mendapatkan nur/cahaya dari rahmat Allah, jalan yang dengan kita melewatinya, terasa lebih lapang, lebih terang, dan lebih tenang.

Bisa kita bayangkan jika tidak mendapatkan jalan yang lurus? Kita akan berada di jalan yang sempit, gelap, licin dan tak tahu sampai mana untuk bisa sampai ke ujung.

Ayat 7 : Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Poin : Jalan yang lurus sudah dijelaskan di Ayat 6. Lalu untuk jalan yang dimurkai dan jalan yang sesat seperti apa?

Jalan yang dimurkai, bahasa sederhananya ialah jalan yang dilewati oleh orang-orang yang tidak taat karena tidak mengikuti rambu-rambu atau perintah Allah. Mereka semaunya sendiri dalam memilih jalan dan tidak mengikuti aturan. Akhirnya mereka berada pada jalan yang mereka sendiri berputar-putar dengan pilihannya. Hanya dengan kembali mengikuti jalan yang luruslah dia akan mendapatkan pintu untuk kembali berjalan di jalan yang diridhai Allah. Mereka dipermainkan dengan pilihannya sendiri.

Jalan yang tersesat, bahasa sederhananya ialah jalan yang dilewati oleh orang-orang yang memilih jalan selain Allah. Artinya dia berjalan semau nafsunya dan akhirnya dia berada pada kesesatan, karena jalan yang dia tempuh tak pernah tahu sampai kapan untuk bisa sampai di ujung. Karena mereka tidak memiliki tujuan. Mereka dipusingkan dengan pilihannya sendiri.
Sumber : 
Al Majid (Al Quran Terjemah dan Tajwid Warna)
Opini Pribadi (Kajian Mandiri)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan : Ridho dan Ikhlas karena Allah

Renungan : Barisan Malaikat